Abah Anom: Sang Mursyid Thariqah Penggerak Sosial Kemasyarakatan

Abah Anom: Sang Mursyid Thariqah Penggerak Sosial Kemasyarakatan

By admin, January 31, 2017

KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin atau yang biasa disapa Abah Anom lahir pada 1 Januari 1915 di Kampung Godebah, Suryalaya, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau merupakan putra kelima pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, KH. Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh dengan Hj. Juhriyah. Abah Anom berarti ‘ayah muda’ karena ayahnya, KH. Abdullah Mubarok, dipanggil Abah Sepuh atau ‘ayah tua’. Ketika Abah Sepuh wafat pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren Suryalaya. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat hingga akhir hayatnya kembali ke rahmatullah 5 September 2011.

Sang Mursyid Pengayom Umat

Kiprahnya sebagai tokoh agama yang banyak menyentuh bidang sosial kemasyarakatan salah satunya berawal dari pemahamannya tentang makna zuhud. Menurut pandangan Abah Anom, zuhud adalah qasr al- ‘amal artinya, pendek angan-angan, tidak banyak mengkhayal dan bersikap realistis. Zuhud adalah orang yang mampu mengendalikan harta kekayaannya untuk menjadi pelayan, sedangkan ia sendiri dapat bertakwa kepada Allah SWT semata atau seperti dikatakan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, “Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”.

Abah Anom merupakan mursyid thariqah yang sekaligus sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan hasil pertanian dan mendukung program swasembada pangan, membuat kincir air untuk pembangkit listrik dan lain sebagainya. Untuk jasanya itu, Gubernur Jawa Barat Mashudi menganugerahi piagam penghargaan atas kepeloporannya meningkatkan swasembada pangan pada tahun 1961.

Abah Anom juga sangat konsen dalam bidang pendidikan. Tahun 1970-an, Abah Anom mulai merintis pendidikan formal dengan mendirikan Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan tersebut memayungi sekolah diniyah, tsanawiyah, dan aliyah. Sekolah Menengah Atas (SMA) didirikan tahun 1975. Setelah itu, tahun 1986 berdiri perguruan tinggi bernama Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM). Selain itu, beliau juga mendirikan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah. Keberadaan lembaga pendidikan tersebut tentunya sangat membantu masyarakat sekitar yang kurang mampu dengan biaya pendidikan yang ‘murah meriah’. Dan memang itu cita-cita Abah Anom, mendirikan lembaga pendidikan bukan mencari keuntungan materi, melainkan ibadah pada Allah SWT dan pengabdian untuk sesama. Sebuah cita-cita yang mulai langka di negeri ini.

Selain itu, Abah Anom juga mendirikan Koperasi Khidmat untuk membantu kesejahteraan warga dan guru-guru Suryalaya. Koperasi ini bekerja sama dengan pemerintah untuk pengembangan sapi perah dan pengelolaan perkebunan teh. Bukan hanya itu, kecintaan Abah Anom terhadap lingkungannya dibuktikan dengan melakukan penghijauan di Hulu Sungai Citanduy untuk mencegah erosi. Beliau melakukan penanaman bambu dan tanaman keras lainnya yang bisa menyimpan resapan air hujan. Atas jasanya itu, tahun 1980 Presiden Soeharto menganugerahkan penghargaan Kalpataru untuk Abah Anom.

Abah Anom adalah sosok pribadi yang santun, lembut dan terbuka kepada semua orang dari semua kalangan. Tahun 1980-an, adalah masa berjayanya artis safari pimpinan Edy Sud, artis-artis ini sering berkunjung ke Suryalaya. Abah Anom selalu menerima tamu apapun latar belakang agamanya. Begitupun dengan masyarakat biasa, Abah Anom dengan sabar tiap pagi menerima antrian masyarakat yang ingin sila-turahim atau meminta didoakan.

Kesuksesan Abah Anom menggerakkan perekonomian rakyat, membangun sarana pendidikan, melakukan penghijauan hutan, bergul dengan siapa saja, adalah bukti bahwa seorang Mursyid mengayomi umatnya lahir-bathin, dunia-akhirat. Abah Anom memberikan pelajaran kepada kita, bahwa berthariqah atau bertasawwuf dan menjadi sufi itu tidaklah identik dengan ”keterpencilan” atau semata-mata berdoa dan berdiam diri di masjid. Sufi itu hatinya tegak lurus hanya kepada Allah SWT dan tangannya bekerja untuk kemanusiaan.

Melepas Dahaga Ruhani Para Pecandu Narkoba dengan Sentuhan Thariqah

Salah satu warisan Abah Anom dalam membina generasi muda Indonesia adalah Pondok Inabah. Pondok yang sekaligus sebagai Panti Rehabilitasi Remaja Korban Penyalahgunaan Narkoba. Pondok tersebut menampung para santri yang mengalami gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat terlarang.

Dalam teorinya, untuk menancapkan iman dalam qalbu, tak ada cara lain kecuali dengan dzikir laa ilaaha illallah, atau yang lazim dikenal di kalangan TQN (Thariqah Qodiriyah Naqsabandiyah) sebagai talqin. Para santri yang dirawat di Inabah harus diberikan ‘pedang’ untuk menghalau musuh-musuh di dalam hati mereka, pedang itu adalah dzikrullah. Selama menjalani masa rehabilitasi, mereka diperlakukan layaknya orang yang terkena penyakit hati, yang terjebak dalam kesulitan, kebingungan dan kesedihan. Walhasil, obat untuk mereka adalah dzikir.

Salah satu bentuk dzikir adalah shalat. Menurut pandangan Abah Anom, para santri yang menjadi pasiennya itu belum dapat shalat karena masih dalam keadaan mabuk. Oleh karena itu, langkah awalnya adalah menyadarkan mereka dari keadaan mabuk dengan mandi junub. Apalagi sifat pemabuk adalah ghadab (pemarah), yang merupakan perbuatan syaithan yang terbuat dari api. Obatnya tiada lain kecuali air. Jadi, selain dzikir dan shalat, untuk menyembuhkan para pasien itu digunakan metode wudhu dan mandi junub. Perpaduan kedua metode itu dirasa cukup berhasil sampai saat ini dan tetap dipertahankan di Pondok Inabah untuk mengobati para pasiennya dari yang tingkat kecanduannya paling ringan sampai yang paling berat. Para santrinya diminta bangun tiap dinihari, mandi, shalat tahajud, kemudian berdzikir. Terhitung sudah ratusan ribu santri binaannya yang berhasil sembuh dari ketergantungan pada narkotika. Sejak itu, cabang Inabah pun tak hanya ada di Indonesia, namun mulai menjamur ke sejumlah negara Asia seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand.

Pondok yang berdiri sejak tahun 1968 dan baru diresmikan pemerintah pada 1980 itu rupanya membawa hikmah lain. Di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama yang datang dari berbagai benua seperti Afrika, Eropa dan Amerika. Mereka mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawwuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiiyah Naqsabandiyah.

 

 


Leave a Reply