Dr. K.H. Idham Chalid: Ulama’ dan Politisi Penganut Filosofi Air

Dr. K.H. Idham Chalid: Ulama’ dan Politisi Penganut Filosofi Air

By Moh. Imam Rahmat Fahmi, January 31, 2017

19 Desember 2016 lalu, BI (Bank Indonesia) meluncurkan desain baru uang rupiah. Salah satu tokoh nasional yang menjadi gambar desain baru mata uang rupiah tersebut adalah sosok Dr. K.H. Idham Chalid. Gambar beliau menjadi icon baru mata uang rupiah pecahan Rp 5.000.

Dr. K.H. Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1921 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Beliau adalah anak sulung dari lima bersaudara dari H. Muhammad Chalid. Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Pak Idham, begitu beliau sering disapa adalah sosok ulama’ dan politisi yang tidak diragukan lagi pengabdiannya terhadap umat dan negara. Beliau adalah tokoh fenonemal yang pernah memimpin NU (Nahdlatul Ulama’) selama 33 tahun (1952-1984), terlama sepanjang sejarah NU. Usia beliau masih 35 tahun saat menjadi Ketua Umum PBNU untuk pertama kalinya. Sebuah usia yang terbilang relatif masih muda untuk memimpin organisasi sebesar NU.

Pengabdian Pak Idham terhadap negara sebagai politisi juga sangat panjang. Beliau tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II (1956-1957) dan kabinet Juanda (1957-1959), Menteri Utama bidang Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Ampera I (1966- 1967), Menteri Negara Kesejahteraan dalam Kabinet Ampera II (1967-1968), Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Pembangunan I (1968- 1973). Selain itu, beliau juga pernah menjadi Ketua DPR (1968-1977) dan Ketua MPR (1972-1977) serta Ketua DPA (1978-1983).

Sosok Kesatria yang Berhati Lapang

Pada Mukatamar NU ke-27 1984 di Situbondo, sikap kesatria Pak Idham benar-benar teruji. Pada saat Muktamar tersebut, di tubuh NU terjadi perbedaan pandangan hingga mengancam keutuhan NU. Ditengah gejolak tersebut, atas permintaan para kyai sepuh juga, beliau akhirnya mengundurkan diri dari pencalonan Ketua Umum PBNU. Bagi beliau, kemaslahatan dan keutuhan warga nahdliyyin lebih penting dari apa pun. Pengakuan atas sikap luar biasa beliau ini dituturkan oleh Gus Dur dalam salah satu tulisannya berjudul Akan Pecahkah NU ?, ” … . Demikianlah sikap kesatria yang ditunjukan Dr. Idham Chalid. Apa pun kata orang tentang dirinya, ia telah menunjukkan bahwa kepentingan NU (termasuk kepentingan politik dari organisasi keagamaan Islam terbesar di dunia itu) adalah pegangannya.”.

Tidak Kaku dengan Perbedaan

Dalam sebuah perjalanan menuju tanah suci Mekkah dengan sebuah kapal laut, di satu waktu shalat shubuh, Pak Idham diminta mengimami jama’ah sholat shubuh. Akan tetapi, beliau tidak melakukan qunut lazimnya warga nahdliyin umumnya saat sholat shubuh karena beliau tahu ada Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) yang menjadi makmumnya. Sehingga seusai shalat Buya Hamka bertanya, “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut?”. Jawab Pak Idham, “Saya tidak membaca do’a Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut”.

Penganut Filosofi Air

Bagi Pak Idham, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo ini, seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air. “Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari r e s apan. Bil a dibua tkan kana l i a mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia”. Sebagai ulama’ dan politisi pelaku filosofi air, Dr. K.H. Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun namun berwibawa dan pembawa keteduhan.


Leave a Reply