Ihsan

Ihsan

By Ust. Muhammad Arif Widodo, January 31, 2017

Untuk anak laki-laki, dua ekor kambing. Untuk anak perempuan, cukup seekor kambing saja. Begitulah aqiqah yang dianjurkan ketika anak manusia lahir.

Si Hasan, sebut saja begitu, sangat bersemangat mengkritik anjuran tersebut. Dengan aqiqah dua ekor kambing, katanya, anak laki-laki lebih dihargai dari pada anak perempuan yang diaqiqahi hanya dengan seekor kambing. Perlakuan lebih terhadap anak laki-laki ini merupakan cerminan ketidakadilan gender pada budaya Arab jahiliyah yang masih tersisa dalam Islam. Islam sebenarnya hadir untuk mengubah struktur yang tidak adil ini secara gradual namun pasti. Banyak ayat-ayat Al-Quran atau hadits nabi yang menyuarakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kita semestinya bergerak ke arah sana, meneruskan proses perubahan yang belum selesai, bukan berhenti dengan menuhankan aturan-aturan. Seperti kata Bung Karno, kita harus ambil apinya, jangan abunya.

Karena pendapat Si Hasan, kampung pun menjadi gaduh. Hasan dicap sebagai sesat dan kafir.Tapi tampaknya Si Hasan sangat menikmati vonis itu. “Itulah risiko yang harus dihadapi oleh para pendobrak dan pencerah”, kata Hasan dalam hati.

Si Husein, juga sebut saja begitu, berkebalikan dengan Si Hasan. Si Husein berpendapat bahwa Islam itu telah sempurna 14 abad yang lalu, tidak boleh ditambah-tambahi, diotak-atik, atau diubah-ubah untuk memenuhi tuntutan jaman, atau apalagi hanya untuk memenuhi hawa nafsu. Semua itu adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan kesesatan tempatnya pasti di neraka. Kalau aturan aqiqah seperti itu, ya laksanakan saja. Jangan diubah atau dimodifikasi.

Si Ihsan, lain lagi sikapnya. Orangnya tenang, tidak banyak bicara. Sewaktu lahir anak pertamanya yang laki-laki, ia menyembelih dua ekor kambing sebagai aqiqah. Orang-orang pun menilai Ihsan sebagai orang yang taat menjalankan anjuran Nabi. Tetapi, saat lahir anak kedua, perempuan, ia juga menyembelih dua ekor kambing. Orang-orang pun bertanya, mengapa Si Ihsan beraqiqah dengan cara yang berbeda? Apa itu tidak melanggar aturan? Dengan tenang Si Ihsan menjawab, “Saya sangat bersyukur dianugerahi anak perempuan, sama bersyukurnya dengan ketika dianugerahi anak laki-laki. Rasa syukur yang sama kuatnya itu saya wujudkan dengan menyembelih dua ekor kambing, baik untuk anak lakilaki ataupun anak perempuan”.

“Nah, itu. Rasa syukur yang sama itu baik sekali. Tapi apa ya harus dengan melanggar ketentuan yang telah digariskan?,” sergap orang yang mempertanyakan sikap Si Ihsan.

“Ooo, itu tho masalahnya. Aturan mana yang saya langgar? Saya menyembelih dua ekor kambing, satu ekor untuk aqiqah dan satu ekor untuk sedekah. Apakah sedekah barang halal dengan cara halal dilarang? Atau apakah ada larangan sedekah dan aqiqah dalam waktu bersamaan? Lagian mana cukup menyembelih satu ekor kambing untuk orang sekampung ini?,” Jawab Ihsan dengan tenang.

***

Zakat adalah sedekah wajib dengan aturanaturan yang telah ditentukan. Apa saja yang harus dizakati, batas minimalnya berapa, jumlah yang harus dibayarkan berapa, kapan dibayarkan, dan kepada siapa saja diberikan sudah ada aturannya. Sebagaimana biasa, tentu ada perbedaan pendapat ulama’ dalam hal ini. Misalnya saja, apakah gaji pegawai yang diterima bulanan harus dizakati?

Si Husein, sebut saja begitu, adalah seorang eksekutif muda bergaji puluhan juta rupiah tiap bulannya. Ia mengikuti pendapat bahwa gaji tidak perlu dizakati. Pilihan pendapat ini sungguh amat syar’i, didasari Al-Qur’an dan Sunnah juga. Tetapi sesungguhnya yang paling mendasari adalah karakternya Si Husein, yakni pelit. Ia hanya membayar zakat fithrah tiap Idul Fitri, itu pun dengan jumlah yang amat syar’i (sesuai dengan syari’at) yakni 2,5 kg beras per anggota keluarga.

Bandingkan dengan Si Parto, tetangga Si Husein yang petani. Setiap panen padi Parto selalu menyisihkan 10% hasil panennya untuk membayar zakat, tanpa memperdulikan betapa besar ongkos bertani di jaman sekarang. Tentu zakat itu di luar zakat fithrah yang ia genapkan jadi 3 kg per anggota keluarga.

Berbeda lagi dengan Si Ihsan, sebut saja begitu, adalah seorang karyawan dengan gaji yang tidak terlalu besar. Sebenarnya ia juga mengikuti pendapat bahwa gaji tidak perlu dizakati. Akan tetapi tiap bulan ia memastikan bahwa lebih dari 2,5 persen pendapatan yang ia terima ia sedekahkan kepada kerabat dekat yang membutuhkan, dan bila ada yang masih tersisa baru ia sedekahkan untuk yang lain-lain.

***

Ketika Jibril, yang menyamar sebagai lelaki dengan pakaian serba putih dan rambut hitam legam, bertanya tentang ihsan, Kanjeng Nabi menjawab: “ihsan itu ketika beribadah kepada Allah SWT, engkau seolah-olah melihat-Nya, atau kalau engkau tidak bisa melakukan yang seperti itu, engkau merasa sedang dilihat-Nya” (HR. Bukhari & Muslim, dalam Kitab Fathul Bari Juz I). Dengan demikian ihsan tidak sekadar memenuhi syarat dan rukun dalam beribadah. Harus lebih dari itu: dihayati, Allah SWT “dihadirkan”, dan dimaknai lebih dari sekedar ritual semata.

Ajakan untuk ber-ihsan barang kali juga dapat dijumpai dalam peringatan Baginda Rosulullah Muhammad SAW kepada umatnya soal puasa: “betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapat apapun kecuali lapar dan dahaga” (Hadits Sahih Riwayat Abu Hurairah. Dinukil dari Sunan Ibnu Majah dan Musnad Imam Ahmad). Dari peringatan Rosulullah tersebut, syarat dan rukun puasa memang telah terpenuhi, kewajiban telah ditunaikan, tetapi sayang hanya lapar dan dahaga yang didapat karena tidak ber-ihsan dalam puasanya.

Allah SWT juga berbicara soal ihsan ketika menjelaskan orang-orang yang mendustakan agama, “yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan dirinya atau orang lain untuk memberi makan orang miskin” (QS. Al-Ma’un : 1-3). Mereka beragama, menjalankan ibadah-ibadah ritual, tetapi lupa untuk meng-ihsan-kan agama mereka dengan ibadah-ibadah sosial.

Ihsan adalah melampauisyariat. Melampaui, bukan berarti melanggar. Ihsan lebih dalam, menembus hakikat berislam itu sendiri.


Leave a Reply