Kebelet Ngislam

Kebelet Ngislam

By Agus Lege Nasrudin, January 31, 2017

Kebelet pipis…? Kebelet be’ol…? Kebelet kawin…? Kebelet kaya…?

Anda yang bukan orang Jawa mungkin akan bertanya-tanya, apakah kebelet itu? Orang Arab bilang, maa hiya kebelet? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebelet diartikan sebagai : ingin sekali; tidak tertahankan lagi untuk melaksanakan keinginan. Apakah definisi KBBI itu sudah mewakili pengertian kebelet sesuai yang dimaksud oleh penemu kata kebelet? Entahlah. Tapi set idakn ya sudah cukup memberikan gambaran tentang arti kata kebelet, yakni adanya sebuah dorongan dari dalam untuk bersegera melakukan sesuatu.

Kebelet itu adalah rahmat dan pemberian Gusti Allah yang diselipkan khusus ke dalam tubuh manusia sebagai sebuah proses yang alamiah . Bahkan dalam pengertian yang sederhana, kebelet bisa menjadi pembeda manusia dengan malaikat. Kita belum pernah mendengar ada dalil yang menunjukkan bahwa malaikat atau iblis yang kebelet kawin, kebelet kaya, kebelet pipis, kebelet be’ol, atau kebelet apalah yang menjadi bawaan manusia.

Sementara manusia dan binatang, samasama bisa kebelet. Bedanya, binatang tidak dibekali ilmu manajemen kebelet. Sampai hari ini, belum pernah kita mendengar binatang yang sedang kebelet kawin bersedia melewati proses lamaran (khitbah), akad nikah kemudian berakhir dengan resepsi pernikahan. Binatang yang kebelet kawin , dia akan melampiaskan keinginannya kepada siapa saja yang ditemuinya. Tak peduli istri (pasangan) tetangga atau bahkan masih keluarga.

Mari kita perhatikan lebih detail lagi proses seseorang ketika sedang kebelet. Pertanyaan pertama, dari mana sebenarnya asal muasal rasa kebelet itu muncul? Bagian manusia yang mana yang mendorongnya? Dalam kajian tasawwuf, ada istilah “syahwat” yang merupakan bagian dari nafsu. Kata syahwat ini disebut sebanyak 13 kali di dalam Al-Qur’an . Dalam pengertian yang sederhana, syahwat bermakna al-hawa (terjatuh dari atas ke bawah), al-hubb (kecintaan), dan al-mailu (keinginan dan kesenangan). Ringkasnya, syahwat bisa diartikan sebagai dorongan untuk memenuhi kepuasan biologis, kepemilikan, kedudukan, kenyamanan dan harga diri.

Kebelet pipis, kebelet be’ol, ataupun kebelet kawin, jelas merupakan dorongan untuk memenuhi kepuasan biologisnya. Kebelet kaya, tentu merupakan dorongan untuk memenuhi kepuasan atas kepemilikan, kenyamanan dan mungkin juga berkaitan dengan harga diri atau status sosial seseorang. Ciri khas dari dorongan syahwat adalah dipengaruhi lingkungan, datangnya tiba-tiba, menggebu-gebu, rentang waktunya relatif pendek, serta ada rasa puas setelah tercapai keinginannya (dalam seksologi disebut dengan istilah “orgasme”). Bahkan dalam beberapa contoh, syahwat ini seringkali mendorong manusia bertindak di luar akal sehat.

Bagaimana dengan “kebelet ngislam” seperti judul di atas? Apa pengertiannya? Adakah ia juga merupakan dorongan syahwat? Disadari atau tidak, manusia modern sudah terseret jauh masuk ke dalam kondisi yang oleh Karl Marx disebut sebagai materialisme historis. Dalam pengertian yang sederhana, materialisme historis adalah keadaan yang mempengaruhi kesadaran seseorang.

Kebelet adalah sebuah kondisi (dalam bahasa filsafat boleh dikata sebagai kesadaran) yang sangat dipengaruhi keadaan. Kebelet pipis, umumnya disebabkan karena asupan minuman yang berlebih atau bisa juga dipengaruhi faktor cuaca. Kebelet kaya, bisa jadi karena tingginya keinginan atas kepemilikan terhadap sesuatu (barang) setelah melihat enaknya jadi orang kaya.

Kebelet ngislam pun demikian. Kebelet ngislam adalah dorongan kuat yang bersumber dari syahwat untuk memenuhi kepuasan berislam atau menjadi muslim. Dawuhe Gusti Allah, zuyyina linnasi hubbus syahawat. Bahwa manusia itu dihiasi oleh kesenangan untuk menuruti syahwat. Padahal di ayat lain, manusia juga terikat dengan Perjanjian Nafs dengan Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-A’raf ayat 72. Perjanjian Nafs ini adalah kesadaran untuk menjadi hamba yang konsekuensinya melahirkan kewajibankewajiban untuk beribadah. Sebagai ilustrasi, kesadaran menjadi hamba adalah ibarat rumah. Sementara syahwat adalah taman-taman hiasan yang berada di emperan rumah.

Sebagai taman hiasan yang ada di emperan, tentu dia sangat rentan terhadap perubahan. Ketika hujan kehujanan, ketika panas kepanasan, mudah goyang diterpa angin dan sangat mudah terserang penyakit. Lain halnya dengan yang berada di dalam rumah. Dia lebih tahan terhadap segala perubahan. Dalam kajian tasawwuf, rumah itulah yang disebut hati. Sebagaimana hadits qudsi, qolbul mukminin baitullah. Bahwa hati seorang mukmin itulah rumah yang di dalamnya terdapat relasi yang sesungguhnya antara hamba dengan Allah SWT.

Dikatakan kebelet ngislam, jika di dalamnya terdapat tanda-tanda syahwat. Datangnya tibatiba, menggebu-gebu, dipengaruhi lingkungan, mudah goyah, mudah berbelok arah, mudah terserang penyakit, tidak istiqomah, dan ada kepuasan ketika sudah tercapai serta (dalam kondisi ekstrim) abai terhadap akal sehat.

Kebelet ngislam inilah yang akhir-akhir ini lagi menjadi tren. Manusia-manusia modern sekarang mudah terdorong syahwat untuk segera “membuktikan” keislamannya. Islam yang seharusnya ada di dalam bangunan rumah, ditarik keluar menjadi taman-taman hiasan yang bisa dilihat siapa saja yang sedang melintas. Menjadi pengantin dari sebuah aksi pengeboman, adalah contoh paling ekstrim bentuk pembuktian keislaman seseorang.

Mengapa “taman hiasan” ini sekarang menjadi tren dan paling digemari? Alasan utamanya adalah karena “tuntutan” jaman yang condong kearah pemenuhan kebutuhan spiritualisme. Dan, kondisi ini dimanfaatkan golongan tertentu untuk merangkul mereka. Berbagai program keislaman ditawarkan untuk memfasilitasi kebutuhan syahwat demi mempercantik taman-taman hias. Lalu apa salahnya? Dalam kajian tasawwuf, benar salah dan baik buruk adalah hal yang berbeda. Sesuatu yang benar bisa baik, bisa juga buruk. Ibnu Atha’illah Asy -Syakandari dalam kitab Al-Hikam mengidentifikasi bahwa keinginan seseorang untuk me l akukan ibadah ka r ena ingin mendapatkan kenikmatan dalam beribadah, masih tergolong syahwat yang halus (syahwat khofiyah). Belum sampai pada derajat “lillah”, apalagi “billah”. Tidak salah memang, tapi kurang baik dalam konteks akhlak penghambaan kepada Allah SWT.

Dengan pemahaman inilah, Aksi 212 bisa dilihat secara jernih. Siapapun yang menyaksikan aksi berkumpulnya ribuan kaum muslimin tersebut sudah pasti akan bergetar. Tapi, disinilah para ulama’ yang kapasitas keilmuan dan akhlaknya sudah teruji jaman sangat berhati-hati. Bahwa ghirah dan kesadaran itu adalah emperan rumah. Sekali lagi, tidak salah. Akan tetapi, ghirah dan kesadaran itu harus segera dimasukkan ke dalam hati untuk menghindarkan diri dari pengaruh syahwat. Jika itu dilakukan, maka akan lahirlah pribadi-pribadi muslim yang kaffah.


Leave a Reply