Membangun Peradaban Berbasis Spiritualisme

Membangun Peradaban Berbasis Spiritualisme

By Agus Lege Nasrudin, January 31, 2017

Beragam aliran filsafat dan teori sosial dihadirkan di tengah kehidupan masyarakat. Mulai dari komunisme, sosialisme, kapitalisme, Leninisme, pragmatisme dan sederetan ismeisme lainnya yang diimplementasikan melalui beragam eksperimen sosial. Semua bertujuan untuk mengantarkan manusia mencapai puncak kehidupan, yaitu kebahagiaan.

Namun apa yang terjadi? Manusia semakin terasing dengan dirinya sendiri. Alih-alih memperoleh kebahagiaan yang dicari, yang terjadi malah justru sebaliknya. Masalah sosial terus bermunculan dan hampir selalu menghiasi kolom berita di sejumlah media massa setiap harinya.

Mengapa bisa terjadi? Karena teori-teori sosial (sosialisme, kapitalisme, komunisme, dll) yang dijadikan acuan untuk menata kehidupan sosial ini semua ber sumber pada MATERIALISME. Sementara materialisme sendiri – dalam pengertian yang sederhana – hanya mengandalkan pada panca indera sebagai instrumennya. Padahal Islam mengajarkan bahwa kehidupan ini terdiri dari 3 dimensi, yakni dzahir (materiil), hati (immateriil) dan ruh yang tentunya masing-masing memiliki piranti untuk menatanya. Ilmu syariat bertugas melakukan toto lahir (menata lahirriyah), ilmu thoriqoh dan hakekat mengarahkan toto batin (menata batinniyah), dan ilmu ma’rifat sebagai piranti untuk mensucikan ruh. Dan ruh inilah ibarat inti atom dari seorang manusia. Dari situlah terlahir segala bentuk tindak dan perilaku manusia. Karena itu, membangun manusia tanpa menyentuh sisi immateriil dan ruh, ibarat pepesan kosong (suatu usaha yang tidak memberikan hasil apa-apa).

Materialisme membentuk manusia menjadi sangat kerdil. Padahal, manusia adalah makhluk yang paling dibanggakan Allah SWT di hadapan makhluk lainnya. Tapi, materialisme telah menyulap manusia dari makhluk yang paling mulia menjadi hanya seonggok daging yang bernyawa. Jangan heran jika tatanan materialisme ini menjadikan manusia lebih bersifat individualis, saling curiga, mengedepankan kepentingan pribadi, serta abai terhadap lingkungan sekitarnya. Inilah 5 tonggak penopang MATERIALISME : 1. Hakekat wujud: materi; 2. Ukuran hidup : kepentingan; 3. Tujuan hidup: kepuasan diri; 4. Motivasi hidup : keuntungan maksimal; 5. Etos hidup: berkompetisi untuk materi.

Ironisnya lagi, tatanan kehidupan di zaman modern seperti sekarang ini sudah mulai menggerogoti ruh peradaban, yakni AGAMA (dalam pengertian yang kaffah) dan NILAI. Spiritualisme agama tercerabut dari akarnya sehingga agama tidak lebih dari sekedar seperangkat ritual yang kosong dan kering. Sementara nilai-nilai kearifan yang dibangun dan dilestarikan para pendahulu, secara perlahan tapi pasti juga mulai kehilangan ruang geraknya. Ajaran-ajaran nilai seperti saling menghormati, saling peduli, saling menolong, tepo seliro (tenggang rasa), sopan santun, etika, mendahulukan orang lain, gotong royong, guyub rukun, telah berganti wajah menjadi pragmatisme.

Memang, yang paling mengerikan adalah di saat materialisme mencoba merambah wilayah agama. Tuhan yang Maha Ghaib pun dipaksa diformulasikan menjadi sesuatu yang material. Syahadat yang sejatinya multi dimensi, telah direduksi ke dalam pemaknaan yang rendah. Aksi teror dan kekerasan atas nama agama, adalah salah satu “bentuk” manifestasi meterialisasi keberagamaan. Agama tidak lagi menjadi “spirit” tapi sudah terjebak ke dalam “bentuk”. Dan inilah virus paling kronis yang sedang digemari manusia modern.

Kondisi ini tentu saja tak bisa dibiarkan terus berlangsung. Materialisme harus dilawan. Dengan cara apa? Satu-satunya cara adalah dengan membangkitkan spiritualisme. Dalam konteks keislaman, maka agama harus dikembalikan keutuhannya. Seperangkat ritual yang menjadi “bentuk” dari keislaman, harus segera diinjeksi sehingga bisa menjadi kekuatan spirit yang dahsyat. Dan cara menginjeksinya adalah dengan menghidupkan kembali gerakan tarekat (thoriqoh). Dan inilah 5 tonggak SPIRITUALISME itu : 1. Hakekat wujud : Allah ta’ala; 2. Ukuran hidup : penghambaan/ibadah; 3. Tujuan hidup : ilaa anta maqshudi; 4. Motivasi hidup : wa ridloka mathlub; 5. Etos hidup : ‘amar ma’ruf nahi munkar.

Mengapa tarekat? Karena tarekat merupakan gerbang menuju Islam kaffah. Tarekat adalah jendela penghubung kehidupan dunia dan akherat. Tarekat tak mengenal dikotomi (dunia dan akhirat) sebagaimana selama ini dipahami umat Islam. Mayoritas umat Islam memahami bahwa bekerja, berorganisasi, berpolitik, bertani, berjualan, dsb, adalah amalan duniawi. Sedangkan sholat, zakat, puasa, dzikir adalah amalan akherat. Tapi di dalam tarekat, semua amalan bergantung pada niat bukan pada bentuknya. Apapun yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT itulah akhirat, meskipun bentuknya seolah-olah urusan dunia. Sedangkan, apapun yang menjauhkan dari Allah SWT meskipun itu seolah-olah bersifat ukhrawi itu sebenarnya adalah dunia. Sholat, dzikir, puasa, dsb, bisa jadi merupakan amalan dunia jika niatnya salah. Sebaliknya, bekerja, berorganisasi, bertani, berpolitik, berjualan, dsb, bisa dipandang sebagai amalan akhirat jika diniati dengan cara yang benar menurut ilmu tarekat.

Gerakan tarekat di seluruh wilayah nusantara yang dipelopori para wali, terbukti telah berhasil membuat tatanan kehidupan yang aman, damai dan bahagia. Gerakan ini sekaligus bisa menjadi syiar Islam hingga akhirnya Islam bisa diterima dengan baik dan sekarang menjadi agama mayoritas. Gerakan tarekat sempat terkendala pada masa penjajahan karena keanggotaannya yang terbatas hanya pada kalangan bawah. Meski di sisi lain, gerakan ini dianggap momok paling menakutkan bagi para penjajah. Belajar pada pengalaman sebelumnya, maka gerakan tarekat yang dibutuhkan hari ini adalah dengan cara memperluas penyebarannya. Masyarakat golongan atas hingga lapis terbawah harus dirangkul. Jika ini bisa dilakukan, insyaAllah kedamaian dan kejayaan Indonesia bisa diwujudkan yang pada akhirnya diharapkan bisa mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Alfaqir ilaa rahmatillah yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa ini hanya berusaha menggugah kesadaran bersama untuk kembali membangkitkan spiritualisme dalam bentuk gerakan tarekat. Tentu saja, semangat ini tak hanya berhenti sampai di sini. Tapi harus dibreakdown secara rinci dalam bentuk program-program yang bersifat operasional dan teknis. Misalnya, dengan menghidupkan lagi gerakan Mabadi Nashrillah, yakni tazawaru ba’dluhum ba’dlo (saling mengunjungi), tawashau bilhaqqi wa tawashau bis shabri (saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran), dan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Tradisitradisi lokal yang bernilai spiritual dan sarat nilai harus digali dan dihidupkan kembali.

Hal itu semua tentu menjadi tugas kita bersama dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dan tuntutan zaman. Tetapi apapun bentuknya, semua harus disandarkan kepada Allah SWT. Karena itulah inti dari gerakan tarekat. Tapi setidaknya, sekecil apapun yang kita lakukan hari ini, semoga bisa menjadi ikhtiar dalam Meletakkan Dasar Peradaban Berbasis Spiritualisme.


Leave a Reply