Tabbayyun

Tabbayyun

By Ust. Muhammad Arif Widodo, January 31, 2017

Inilah isi sebuah khutbah Jumat yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Saya dengarkan dengan seksama khutbah Jumat itu, saya rekam, soal tabayyun:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat [49]:6)”

Meskipun terdapat perbedaan detail peristiwa, semua riwayat dalam kitab-kitab tafsir seperti At-Thabari, Al-Qurthubi, dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa yang menjadi latar belakang turunnya ayat di atas adalah peristiwa penyampaian berita tidak valid oleh Al-Walid ibn ‘Uqbah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. AlWalid ibn ‘Uqbah yang diutus oleh Baginda Nabi Muhammad SAW untuk memungut zakat dari para wajib zakat Bani Mushthaliq (suku Arab yang memeluk Islam tak lama sebelum Perjanjian Hudaibiyah), bukannya kembali menghadap Kanjeng Nabi dengan hasil pungutannya, tetapi malah menyampaikan berita palsu yang bisa berakibat sangat serius: Bani Mushthaliq telah murtad dan hendak memerangi Nabi.

Bagaimana utusan Nabi bisa seperti itu? Pada masa pra-Islam, menurut beberapa catatan, Al-Walid ibn ‘Uqbah dan Bani Mushthaliq pernah saling bermusuhan. Tak lama sebelumnya, sebelum memeluk Islam, Bani Mushthaliq juga pernah berperang terhadap Nabi. Barangkali karena itulah ketika seluruh warga Bani Mushthaliq bersuka ria bersiap menyambut kedatangannya sebagai utusan Kanjeng Nabi, ia justru menyangka mereka sedang mempersiapkan perang. Belum lagi berjumpa dengan Bani Mushthaliq, ia langsung kembali menghadap Kanjeng Nabi dan membuat laporan keliru berdasarkan prasangkanya.

Atas tindakan gegabahnya itu, secara tidak langsung Al-Qur’an menyebut Al-Walid ibn ‘Uqbah sebagai orang fasik, sebutan yang di berbagai ayat hanya disematkan kepada orangorang durhaka, munafik, yang tidak mendapat petunjuk, atau bahkan mereka yang mengingkari ayat-ayat-Nya. Kesimpulan bahwa Alquran menyebut Al-Walid ibn ‘Uqbah sebagai orang fasik setidaknya terdapat pada Tafsir Al-Qurthubi. Kesimpulan ini dibantah keras oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi: penyebutan fasik untuk beliau jelas sangat salah, sebab beliau “hanya” berbuat keliru (khilaf), terlalu mengedepankan prasangka, dan tentu tanpa bermaksud membohongi Nabi atau mengadu domba ketika menyampaikan berita tidak valid. Dua pendapat ini kemudian ditengahi oleh ulama kontemporer, Dr. Wahbah Zuhaili. Menurut beliau, Al-Walid ibn ‘Uqbah jelas bukan orang fasik, bahkan ia sangat kredibel di mata Rasulullah SAW sehingga dipercaya sebagai utusan. Penyebutan fasik kepadanya “hanya” karena penyampaian berita palsu bertujuan untuk memberikan peringatan sekeras-kerasnya kepada seluruh kaum beriman agar tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu atas informasi yang mereka terima dari sumbersumber fasik sebelum melakukan klarifikasi atau verifikasi. Bantahan Imam Fakhruddin ArRazi dan penjelasan Dr. Wahbah Zuhaili ini justru menohok kita dalam-dalam: bila AlWalid ibn ‘Uqbah yang sangat kredibel (terpercaya) di mata Rasulullah saja bisa “ dijuluki ”fasik“hanya”karena menyampaikan informasi tidak valid, bagaimana dengan kita yang sama sekali tak terjamin kredibel tetapi begitu mudah menerima dan membagi informasi yang tidak jelas kebenarannya?

Ayat di atas memerintahkan kita untuk bertabayyun, meneliti kebenaran dengan seksama, atas informasi yang disampaikan oleh orang fasik. Kriteria fasik di sini adalah tingkat kebohongan, bukan suku, agama, ras, haters atau followers, atau tokoh yang dibenci atau disanjung. Semakin sering menebar berita bohong atau informasi tidak valid berarti semakin fasik. Terkait hal ini, Imam AlQurthubi bahkan melontarkan kritik terhadap mereka yang berpendapat bahwa seluruh kaum muslimin pasti adil, jujur, dan kredibel, kecuali terbukti sebaliknya (sehingga informasi yang disampaikan boleh langsung diterima tanpa klarifikasi dan verifikasi). Ayat ini, menurut beliau, membantah pendapat tersebut. Dalam disiplin ilmu jarh wa ta’dil(ilmu kritik periwayat hadits), jarh lebih diutamakan daripada ta’dil, menelisik sifat-sifat negatif dan kadar kebohongan penyampai riwayat harus didahulukan daripada menerima begitu saja asumsi bahwa dia jujur dan adil. Sekali seorang muslim (ya, muslim, karena non-muslim tidak bisa meriwayatkan hadits Nabi) diketahui menyampaikan informasi tidak valid atau apalagi berbohong, hadits apapun yang diriwayatkannya akan selalu dinilai cacat.

Akhirul kalam, kalau kita tidak boleh menjadi korban informasi palsu yang disebarkan oleh orang fasik, maka apa ya boleh kita menjadi orang fasik yang menyebarkan informasi yang jelas mengandung kebencian dan makian, jelas mengundang permusuhan, belum jelas kebenarannya, belum jelas manfaatnya?

Seusai khutbah, pada rakaat kedua salat Jumat, smartphone seorang jamaah di sebelah saya berdering. Tampaknya ia lupa mematikan hape meski sudah diperingatkan untuk menonaktian perangkat komunikasi itu selama sholat jum’at dilangsungkan. Sholat saya yang tidak khusyu’ menjadi semakin tidak khusyu’. Saya membayangkan smartphone yang memudahkan orang menjadi korban sekaligus pelaku kefasikan informasi: menelan mentahmentah berita bohong, gambar-gambar penuh cacian, lalu menyebarkannya dengan sekali sentuh tombol auto-fasik. Korban informasi fasik, lalu menjadi fasik, kemudian melahirkan fasik-fasik baru. Amal jariyah yang luar biasa!

Na’udzu bil-Laah min dzaalik


Leave a Reply