Category Archives: Opini

Ihsan

By Ust. Muhammad Arif Widodo, January 31, 2017

Untuk anak laki-laki, dua ekor kambing. Untuk anak perempuan, cukup seekor kambing saja. Begitulah aqiqah yang dianjurkan ketika anak manusia lahir.

Si Hasan, sebut saja begitu, sangat bersemangat mengkritik anjuran tersebut. Dengan aqiqah dua ekor kambing, katanya, anak laki-laki lebih dihargai dari pada anak perempuan yang diaqiqahi hanya dengan seekor kambing. Perlakuan lebih terhadap anak laki-laki ini merupakan cerminan ketidakadilan gender pada budaya Arab jahiliyah yang masih tersisa dalam Islam. Islam sebenarnya hadir untuk mengubah struktur yang tidak adil ini secara gradual namun pasti. Banyak ayat-ayat Al-Quran atau hadits nabi yang menyuarakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kita semestinya bergerak ke arah sana, meneruskan proses perubahan yang belum selesai, bukan berhenti dengan menuhankan aturan-aturan. Seperti kata Bung Karno, kita harus ambil apinya, jangan abunya.

“Read More”

Membangun Peradaban Berbasis Spiritualisme

By Agus Lege Nasrudin, January 31, 2017

Beragam aliran filsafat dan teori sosial dihadirkan di tengah kehidupan masyarakat. Mulai dari komunisme, sosialisme, kapitalisme, Leninisme, pragmatisme dan sederetan ismeisme lainnya yang diimplementasikan melalui beragam eksperimen sosial. Semua bertujuan untuk mengantarkan manusia mencapai puncak kehidupan, yaitu kebahagiaan.

Namun apa yang terjadi? Manusia semakin terasing dengan dirinya sendiri. Alih-alih memperoleh kebahagiaan yang dicari, yang terjadi malah justru sebaliknya. Masalah sosial terus bermunculan dan hampir selalu menghiasi kolom berita di sejumlah media massa setiap harinya.

“Read More”

Abah Anom: Sang Mursyid Thariqah Penggerak Sosial Kemasyarakatan

By admin, January 31, 2017

KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin atau yang biasa disapa Abah Anom lahir pada 1 Januari 1915 di Kampung Godebah, Suryalaya, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau merupakan putra kelima pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, KH. Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh dengan Hj. Juhriyah. Abah Anom berarti ‘ayah muda’ karena ayahnya, KH. Abdullah Mubarok, dipanggil Abah Sepuh atau ‘ayah tua’. Ketika Abah Sepuh wafat pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren Suryalaya. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat hingga akhir hayatnya kembali ke rahmatullah 5 September 2011.

“Read More”

Dr. K.H. Idham Chalid: Ulama’ dan Politisi Penganut Filosofi Air

By Moh. Imam Rahmat Fahmi, January 31, 2017

19 Desember 2016 lalu, BI (Bank Indonesia) meluncurkan desain baru uang rupiah. Salah satu tokoh nasional yang menjadi gambar desain baru mata uang rupiah tersebut adalah sosok Dr. K.H. Idham Chalid. Gambar beliau menjadi icon baru mata uang rupiah pecahan Rp 5.000.

Dr. K.H. Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1921 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Beliau adalah anak sulung dari lima bersaudara dari H. Muhammad Chalid. Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

“Read More”

Kebelet Ngislam

By Agus Lege Nasrudin, January 31, 2017

Kebelet pipis…? Kebelet be’ol…? Kebelet kawin…? Kebelet kaya…?

Anda yang bukan orang Jawa mungkin akan bertanya-tanya, apakah kebelet itu? Orang Arab bilang, maa hiya kebelet? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebelet diartikan sebagai : ingin sekali; tidak tertahankan lagi untuk melaksanakan keinginan. Apakah definisi KBBI itu sudah mewakili pengertian kebelet sesuai yang dimaksud oleh penemu kata kebelet? Entahlah. Tapi set idakn ya sudah cukup memberikan gambaran tentang arti kata kebelet, yakni adanya sebuah dorongan dari dalam untuk bersegera melakukan sesuatu.

“Read More”

Tabbayyun

By Ust. Muhammad Arif Widodo, January 31, 2017

Inilah isi sebuah khutbah Jumat yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Saya dengarkan dengan seksama khutbah Jumat itu, saya rekam, soal tabayyun:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat [49]:6)”

Meskipun terdapat perbedaan detail peristiwa, semua riwayat dalam kitab-kitab tafsir seperti At-Thabari, Al-Qurthubi, dan Ibnu Katsir menegaskan bahwa yang menjadi latar belakang turunnya ayat di atas adalah peristiwa penyampaian berita tidak valid oleh Al-Walid ibn ‘Uqbah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. AlWalid ibn ‘Uqbah yang diutus oleh Baginda Nabi Muhammad SAW untuk memungut zakat dari para wajib zakat Bani Mushthaliq (suku Arab yang memeluk Islam tak lama sebelum Perjanjian Hudaibiyah), bukannya kembali menghadap Kanjeng Nabi dengan hasil pungutannya, tetapi malah menyampaikan berita palsu yang bisa berakibat sangat serius: Bani Mushthaliq telah murtad dan hendak memerangi Nabi.

“Read More”

Pelantikan PMII 1011 PK 18

By admin, December 21, 2016